Kabar Indonesia Hari ini

Zoonosis: Ketika Penyakit Hewan Menjadi Wabah Manusia

Zoonosis: Ketika Penyakit Hewan Menjadi Wabah Manusia

Seekor anjing yang menggigit, genangan banjir yang tercemar, atau makanan yang tidak diolah dengan aman dapat menjadi awal penularan penyakit dari hewan kepada manusia. Penyakit semacam ini disebut zoonosis. Meski sebagian hanya menyebabkan kasus sporadis, beberapa dapat memicu kejadian luar biasa hingga krisis kesehatan yang meluas.

Topik Zoonosis: Ketika Penyakit Hewan Menjadi Wabah Manusia bukan sekadar cerita tentang patogen berbahaya. Di dalamnya terdapat hubungan antara aktivitas manusia, kesejahteraan hewan, perubahan lingkungan, dan kesiapan layanan kesehatan. Memahami hubungan tersebut penting agar pencegahan tidak berhenti pada pengobatan orang yang sudah sakit.

Apa Itu Zoonosis?

Zoonosis adalah penyakit atau infeksi yang secara alami dapat ditularkan antara hewan vertebrata dan manusia. Penyebabnya beragam, mulai dari virus dan bakteri hingga parasit serta jamur. Sumber penularannya dapat berupa hewan peliharaan, ternak, maupun satwa liar.

Perpindahan patogen dari hewan ke manusia sering disebut spillover. Namun, spillover tidak otomatis menghasilkan wabah besar. Agar penyebaran meluas, diperlukan kondisi pendukung, misalnya paparan bersama dari sumber yang tercemar atau kemampuan patogen menular secara berkelanjutan antarmanusia. Banyak zoonosis justru tidak mudah berpindah dari satu orang ke orang lain.

Bagaimana Penyakit Berpindah dari Hewan?

Penularan zoonosis tidak selalu terjadi karena seseorang menyentuh hewan. Hewan yang membawa patogen pun belum tentu tampak sakit. Beberapa jalur yang perlu dipahami meliputi:

  • Kontak langsung: melalui gigitan, cakaran, atau paparan air liur, darah, dan cairan tubuh hewan yang terinfeksi.
  • Lingkungan tercemar: melalui air, tanah, kandang, atau benda yang terkontaminasi urine maupun kotoran hewan.
  • Pangan dan minuman: melalui daging yang kurang matang, susu yang tidak dipasteurisasi, atau bahan pangan yang tercemar selama pengolahan.
  • Vektor: melalui perantara seperti nyamuk, pinjal, atau caplak yang membawa patogen dari hewan ke manusia.
  • Partikel yang terhirup: pada penyakit tertentu, debu atau aerosol dari bahan tercemar dapat menjadi sumber infeksi.

Contoh Zoonosis yang Perlu Dikenali

Rabies: Jangan Menunggu Gejala

Rabies merupakan infeksi virus yang menyerang sistem saraf. Penularannya terutama melalui air liur mamalia terinfeksi, biasanya akibat gigitan. Anjing merupakan sumber utama rabies pada manusia secara global, tetapi mamalia lain juga dapat menularkannya. Setelah gejala klinis muncul, rabies hampir selalu berakibat fatal. Karena itu, penanganan setelah paparan harus dilakukan segera, sebelum gejala berkembang.

Leptospirosis: Risiko dari Air dan Tanah Tercemar

Leptospirosis disebabkan bakteri Leptospira yang dapat keluar bersama urine hewan terinfeksi, termasuk tikus dan sejumlah hewan ternak. Bakteri masuk melalui kulit yang terluka atau selaput lendir. Paparan genangan dan lumpur tercemar, terutama saat banjir, dapat meningkatkan risiko. Gejalanya antara lain demam, sakit kepala, dan nyeri otot; kasus berat dapat merusak ginjal atau hati.

Flu Burung: Waspadai Kontak dengan Unggas Sakit

Beberapa virus influenza unggas dapat menginfeksi manusia, terutama setelah kontak dekat tanpa perlindungan dengan hewan terinfeksi atau lingkungan tercemar. Tidak semua virus flu burung memiliki risiko yang sama, dan virus yang menginfeksi manusia umumnya belum mudah menular secara berkelanjutan antarmanusia. Meski demikian, pemantauan penting karena virus influenza dapat berubah.

Mengapa Risiko Zoonosis Bisa Meningkat?

Perubahan penggunaan lahan dapat mempertemukan manusia, ternak, dan satwa liar lebih sering. Ketika habitat menyusut atau terfragmentasi, pola pergerakan serta interaksi hewan ikut berubah. Risiko bertambah apabila kontak tersebut berlangsung tanpa pengelolaan kesehatan dan kebersihan yang memadai.

Faktor lain meliputi perdagangan satwa yang tidak terkendali, peternakan dengan biosekuriti buruk, sanitasi terbatas, serta distribusi pangan yang tidak aman. Perjalanan dan perdagangan juga dapat mempercepat perpindahan patogen. Sementara itu, perubahan iklim dapat mengubah persebaran sebagian vektor, meskipun dampaknya berbeda menurut penyakit dan wilayah.

One Health: Pencegahan Tidak Bisa Berjalan Sendiri

One Health adalah pendekatan yang menghubungkan kesehatan manusia, hewan, dan ekosistem. Dokter, dokter hewan, ahli lingkungan, petugas laboratorium, serta masyarakat perlu bekerja sama untuk mendeteksi dan mengatasi ancaman sejak dini.

Contohnya, laporan kematian unggas yang tidak biasa perlu ditindaklanjuti oleh petugas kesehatan hewan, sekaligus menjadi perhatian layanan kesehatan apabila ada warga yang sakit setelah kontak. Vaksinasi hewan, pengawasan pangan, perlindungan habitat, dan pertukaran informasi lintas sektor merupakan bagian dari pencegahan. Tujuannya bukan membasmi hewan, melainkan mengurangi peluang penularan secara bertanggung jawab.

Langkah Praktis untuk Melindungi Diri

  1. Rawat hewan secara bertanggung jawab. Lakukan pemeriksaan kesehatan dan vaksinasi sesuai anjuran dokter hewan, terutama vaksinasi rabies di wilayah berisiko.
  2. Biasakan kebersihan tangan. Cuci tangan dengan sabun setelah menyentuh hewan, membersihkan kandang, atau menangani bahan pangan mentah.
  3. Olah makanan dengan aman. Masak produk hewani hingga matang, pisahkan bahan mentah dari makanan siap santap, dan pilih susu yang dipasteurisasi.
  4. Hindari kontak berisiko. Jangan menangani satwa liar, bangkai, atau hewan yang sakit tanpa arahan dan perlindungan yang sesuai.
  5. Lindungi diri saat membersihkan lingkungan. Gunakan sepatu bot dan sarung tangan ketika menghadapi lumpur atau genangan berisiko, serta tutup luka dengan pelindung kedap air.
  6. Laporkan kejadian tidak biasa. Kematian hewan mendadak atau beberapa orang sakit setelah paparan serupa perlu disampaikan kepada petugas setempat.

Apa yang Harus Dilakukan Setelah Paparan?

Jika digigit atau dicakar hewan yang berpotensi menularkan rabies, segera cuci luka menggunakan sabun dan air mengalir selama sekitar 15 menit, lalu datangi fasilitas kesehatan. Tenaga kesehatan akan menilai kebutuhan vaksin antirabies dan, bila diperlukan, imunoglobulin atau produk antibodi sesuai pedoman. Jangan menunggu munculnya gejala.

Jika timbul demam atau keluhan lain setelah kontak dengan hewan maupun air banjir, periksakan diri dan ceritakan riwayat paparannya. Gejala zoonosis sering menyerupai penyakit lain, sehingga diagnosis tidak cukup berdasarkan dugaan sendiri.

Mencegah zoonosis berarti menjaga hubungan yang lebih aman antara manusia, hewan, dan lingkungan. Kebiasaan sehari-hari, pelaporan cepat, serta kerja sama lintas sektor dapat membantu menghentikan penularan sebelum berkembang menjadi wabah.

Exit mobile version